Namaku Rubeno Wiryawan, tapi teman-teman memanggilku Benny. Aku seorang creative manager di sebuah perusahaan kosmetik. Usiaku masih 27 tahun, jadi dengan jabatan yang aku duduki sekarang, boleh dibilang aku cukup sukses. Soal wanita, jelas penampilanku telah menarik banyak perhatian rekan wanita dan bawahanku. Sayang tidak ada satupun dari mereka yang menarik simpatiku, tidak dulu, tidak lagi sekarang.
Aku mempunyai seorang pacar, Andrea Ling namanya. Dari namanya saja, sudah jelas bahwa ia gadis keturunan Tionghoa, sama sepertiku. Andrea lebih muda 2 tahun dariku. Ia bekerja sebagai interpreter di perusahaanku. Andrea cantik dan cerdas, rambutnya selalu tergelung rapi pada saat jam kerja. Ia adalah bagian hidupku.
Siang ini aku ada janji makan siang dengan Andrea. Kebetulan aku baru saja selesai menghadiri rapat di kantor mitra perusahaan kami, jadi kami tidak bisa berangkat bersama. Kemudian aku berangkat ke terminal Busway jurusan Tanah Abang. Sambil menunggu bus berikutnya datang aku duduk di salah satu kursi dalam ruang tunggu. Biasanya saat aku sedang sendiri seperti ini, aku selalu teringat tentang sesuatu yang kualami 3 tahun yang lalu. Saat aku pertama mengenal seseorang yang pernah mengisi hari-hariku. Orang itulah yang telah mengubah jalur hidupku. Orang itu jugalah yang telah membuatku begitu menyayangi Andrea. Orang itu adalah Donny.
Kisahku bersama Donny dimulai saat aku sedang menangani proyek pembuatan iklan terbaru untuk produk kosmetik kami. Kami sedang membutuhkan theme song yang tepat untuk produk kami. Malam itu, sepulang lembur dari kantor aku pergi ke Café untuk bersantai. Di sanalah aku menemukan seorang Donny Siahaan. Ia duduk sendirian di sofa, dengan sebuah gitar, kertas, pensil dan segelas Orange Juice. Aku berpikir bahwa ia adalah seorang penulis lagu. Setelah memikirkan kata-kata yang tepat, aku mengajaknya berkenalan. Dugaanku benar, ternyata ia memang seorang penulis lagu amatir yang bekerja di beberapa perusahaan label di Jakarta yang biasa mengorbitkan penyanyi baru. Kemudian aku mengutarakan niatku untuk mengajaknya bekerja sama. Aku beruntung karena Donny menerimanya. Setelah perkenalan itu, kami jadi sering bertemu untuk membahas theme song iklan produk kami tersebut. Setelah 2 bulan, iklan terbaru kami siap tayang. Namun, hubunganku dengan Donny si penulis lagu tidak berhenti sampai di situ. Kami tetap berteman baik, apalagi waktu itu kami sama-sama tidak punya pacar. Donny ternyata sangat menyenangkan. Ia sangat ramah, sopan, walau agak tertutup. Tapi sepertinya ia mulai menganggapku bisa dipercaya. Ia bercerita bahwa semua keluarganya masih tinggal di Medan, termasuk nenek yang sangat dicintainya. Usia Donny kini 26 tahun, dan ketiga kakaknya adalah perempuan. Donny sangat mencintai musik, sampai akhirnya ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta untuk bekerja sebagai penulis lagu. Lama-kelamaan, aku mulai merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku pikir aku sangat ingin selalu melihat, ngobrol, dan menghabiskan waktu bersamanya. Aku menyayanginya dan ingin melindunginya. Hatiku mulai bergolak. Perasaan apa ini? Cinta? Bukan. Tapi, aku yakin merasakan getaran itu. Aku mengagumi wanita, tapi aku mencintai Donny. Saat itulah aku sadar bahwa aku berbeda. Aku tahu ini salah, tapi aku ingin bersamanya. Aku ingin Donny juga merasakan yang kurasakan. Bagaimana aku harus mencari jawaban semua ini?
Jawaban itu kutemukan pada suatu malam, saat aku dan Donny pergi minum ke sebuah Coffee Shop. Saat kami berdua terdiam, tiba-tiba Donny mengatakan sebuah kalimat yang mengguncangkan otakku. Dengan suara lirih, ia bertanya, “Apa kau mencintaiku?” Sebuah kalimat yang singkat, namun begitu mengena di hatiku. Aku tak sanggup menjawabnya. Aku hanya bisa diam selama bebrapa menit. Aku takut Donny mengetahui isi hatiku, jadi aku hanya balik bertanya, “Apa kau sepertiku?” Donny hanya menatapku. Dengan mata sayu namun dalam ia menjawab lagi, “Jawab saja, Ben. Apa kau mencintaiku?… Karena aku mencintaimu, Ben…”. Seorang kekasih mana yang sanggup mendengar pengkuan tulus itu? Aku tidak bisa berkata-kata lagi, namun aku dan Donny sudah tahu jawabannya. Aku meraih tangan Donny lalu kegenggam erat. Aku melihat matanya berkaca-kaca karena terharu sekaligus takut. Aku yakin, saat itu kami memikirkan hal yang sama. Bagaimana kalau ada yang curiga? Apa kata orang-orang nanti? Apa kata keluarga kami? Tanganku menggenggam tangannya lebih kuat. Aku bilang padanya, bahwa kami tidak usah cemas. Semua orang tak perlu tahu, karena yang terpenting sekarang hanyalah bahwa kami saling menyayangi dan mencintai.
Tanpa banyak bicara, tak lama kemudian kami pulang dari Coffee Shop itu. Tentu saja kami tidak ingin berpisah malam ini. Donny mengangguk saat aku mengajaknya ke apartemenku. Sesampai di dalam, aku langsung memeluk dan menciuminya. Aku sangat bahagia karena Donny membalasku. Rupanya ia juga sudah lama menahan semua keinginan itu. Di sela momen romantis kami, satu kata yang hanya sanggup Donny katakan adalah, “Ben…”. Kami tidak menyia-nyiakan malam spesial kami. Aku merengkuhnya semalaman, terkadang aku mencium dahinya. Malam itu terasa hangat dan panjang.
Setelah malam itu, kami selalu meluangkan waktu untuk pergi bersama, Pergi makan siang, latihan fitness bersama, dan sebagainya. Malam harinya, kami mencari makan malam bersama. Mulai dari restoran hotel berbintang sampai warung kerak telor di pinggir jalan. Semua terasa menyenangkan bersama Donny. Setelah itu, tujuan kami bisa ditebak, apartemenku, atau rumah kontrakan Donny. Kadang saat Donny dalam pelukanku, setitik kecemasan muncul. Bagaimana nasib kami selanjutnya? Namun saat ia menciumku, saat tangannya menyapu leherku, saat napasnya begitu keras di telingaku, aku tahu semua akan baik-baik saja. Aku tidak perlu memikirkan kata orang ataupun masa depan. Yang terpenting adalah kami masih bisa seperti ini sampai kapanpun. Itu sudah cukup.
Beberapa bulan kemudian, seakan badai menerpa hubungan kami. Masalah itu muncul saat aku berkenalan dengan seorang interpreter yang membantuku mendampingi tamu dari Australia. Ia adalah Andrea. Seusai rombongan tamu itu pulang, hal pertama yang dikatakannya adalah, “Kau bukan Gay, kan?” Kemudian ia tertawa. Mau apa? Aku hanya bisa ikut tertawa. Berpura-pura agar ia tidak curiga. Dari sorot matanya aku tahu ia adalah seorang yang tanggap dan kritis. Aku mencoba bersikap simpatik, hanya untuk menutupi hal yang sebenarnya. Lama-lama aku berpendapat bahwa ia gadis yang cantik, baik, dan pandai. Kami mulai berteman, tapi aku tentu saja tidak melupakan Donny. Ia tetap cintaku. Namun, ternyata sikap simpatiku diartikan lain oleh Andrea. Ia mulai menunjukkan perubahan yang sangat kentara. Ia suka memberikan perhatian yang tidak biasa dilakukan oleh teman wanita biasa. Jadi, aku mulai menjaga jarak. Namun Andrea tidak menyerah begitu saja. Ia selalu menguhubungiku dan meminta penjelasan atas sikapku yang menjauh. Sebuah klimaks terjadi saat aku sedang bersama Donny. Tanpa sepengetahuanku, ia membaca pesan singkat dari Andrea dalam ponselku. Isinya mengatakan bahwa ia mencintaiku, dan yakin aku juga merasakan hal yang sama. Andrea bilang, ia yakin kami sudah cukup saling mengenal satu sama lain dan ia ingin kami bersama. Donny tak berkata apa-apa setelah menyerahkan kembali poselku. Aku mencoba memeluknya dan menjelaskan semuanya, tapi ia tetap tak bergeming. Aku menciumnya, namun ia malah mundur. Setelah itu Donny pergi dari hadapanku.
Sesudah itu, aku benar-benar tidak ada semangat untuk hidup. Aku terus menjauhi Andrea, meskipun hatiku sebenarnya tidak tega melihat gadis sebaik dia sakit hati karena orang seperti aku. Aku merasa bedosa. Namun, aku juga tidak bisa membiarkan Donny hilang begitu saja. Ponselnya kini tak pernah aktif dan ia juga sudah meninggalkan rumah kontrakannya. Aku bingung kemana harus mencarinya. Akhirnya aku mendapat ide untuk mencari tahu keberadaanya lewat salah satu perusahaan label tempat ia bekerja. Usahaku tidak sia-sia. Sore itu juga aku memesan tiket pesawat malam menuju Medan.
Pagi harinya aku berangkat mencari rumah keluarga Donny. Ternyata rumah itu tidak sulit ditemukan. Rumahnya cukup besar dan berada di pinggir jalan besar. Namun ada yang membuatku penasaran ketika sampai di sana. Kenapa banyak sekali orang? Di halaman depan disusun kursi-kursi untuk para tamu. Apa sedang ada acara? Aku berjalan mendekat, dan mengenali benda itu diikat pada pagar rumah yang terbuka lebar. Bendera putih dengan tanda silang hitam di tengahnya itu membuat jantungku berdegup kencang. “Siapa yang meninggal?” tanyaku pada seorang bapak. “Itu, dek, si Donny, anak terakhir Pak Ronald. Katanya tertabrak mobil waktu mau menyebrang di depan rumah, kepalanya terbentur ke aspal. Orang tuanya bilang Donny sempat dirawat, tapi kayaknya kondisinya tidak sempat membaik. Masuk saja ke dalam, dek.” Oh, Tuhan! Tubuhku kaku bagai tersambar petir mendengar cerita Bapak itu. Kakiku hampir roboh, tapi aku tetap berlari ke dalam rumah. Dan akupun menemukannya, peti jenazah kekasiku. Aku berlutut di sampingnya, dan menangis. Aku tidak percaya semua ini. Ia tak boleh mati, tidak boleh! Donny-ku tidak bisa meninggalkanku begitu saja! Kami bahkan masih belum meluruskan salah paham diantara kami. Lalu, kurasakan ada yang menepuk pundakku. Aku mendongak. Seorang wanita paruh baya dengan tongkat memberikan sepucuk surat unukku. “Kamu nak Benny ya?” Aku mengangguk pelan. Wanita itu pasti nenek Benny. “Ini ada surat dari Donny buat kamu. Katanya kamu sahabat karibnya.” Hatiku perih mendengar kalimat itu. Aku merindukan Donny-ku. Aku segera membuka amplop yang masih tertutup rapat itu dan membacanya.
Benny,
Maaf aku tidak sempat mengabarimu tentang kepulanganku ke Medan. Kuharap kau bertemu neneku kalau kau sempat ke sini. Aku pulang karena kondisi kesehatannya menurun beberapa waktu yang lalu.
Ben, tentang Andrea itu, aku sudah lama melupakannya. Waktu itu aku cuma bisa mengambil kesimpulan pendek yang bodoh. Aku masih memercayaimu, Ben. Aku percaya dengan hubungan kita. Aku masih mencintaimu, sampai kapanpun. Tapi, Ben, kondisiku semakin parah. Dokter bilang aku tidak akan sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. Aku takut, Ben, kalau aku tidak bisa bertemu kau lagi dan memberitahumu kalau aku selalu merindukan pelukan hangatmu.
Jadi, sebelum terlambat, lewat surat ini aku akan meminta satu hal padamu. Kalau aku mati, jalanilah hidupmu selanjutnya bersama Andrea, perempuan yang jelas akan selalu menyayangimu. Jadilah laki-laki sejati, Ben, dan kenanglah aku sebagai sahabat yang selalu menginginkan yang terbaik bagimu. Aku akan selalu mengingatmu, Ben.
Donny
Aku melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke dalam saku. Aku bangkit dan menyadari bahwa ibu dan ketiga kakak Donny masih menangis di pinggir peti jenazah. Nenek Benny tersenyum penuh ketabahan kemudian berjalan menjauh sambil terbatuk-batuk pelan. Aku pulang tak lama kemudian dan kembali ke Jakarta keesokan harinya. Hal pertama yang kulakukan adalah menghubungi Andrea dan memintanya untuk bertemu. Suaranya begitu bahagia waktu menerima telepon dariku. Saat bertemu, aku menjelaskan bahwa selama ini aku sedang ada masalah dan hanya ingin sendiri, aku tidak menceritakan sedikitpun tentang Donny. Biarlah ia menjadi sepenggal kisah masa laluku. Aku harus belajar untuk mencintai Andrea, dan ternyata ia memang orang yang tepat.
Nah! Itu dia busnya datang. Aku harus segera berangkat. Andrea mungkin sudah menungguku. Hm, mungkin Donny juga sedang mengamatiku sekarang, menjagaku dan melindungiku.
***